Optimis Jadi Sekolah Adiwiyata Mandiri

      Komentar Dinonaktifkan pada Optimis Jadi Sekolah Adiwiyata Mandiri

Tim Adiwiyata SMA Negeri 7 Semarang tengah mempersiapkan seleksi Adiwiyata Mandiri untuk penilaian April mendatang. Mulai dari kerja bakti memperbaiki biopori, merawat taman sekolah, dan mengolah sampah. Bersama 13 kandidat sekolah lainnya, SMA N 7 optimis akan menjadi Sekolah Adiwiyata tingkat SMA kedua di Semarang menyusul SMA N 14, Jum’at (5/3).

Sosialisasi Kegiatan Konservasi Air sebagai Bagian dari Kegiatan Adiwiyata Mandiri

Ketua Tim Adiwiyata SMA N 7 Sri Wahyuni menyampaikan untuk menjadi aiwiyata mandiri sekolahnya perlu membuat kerjasama dengan 10 sekolah mitra binaan. Kemudian menggandeng semuanya menjadi sekolah adiwiyata kota. Kini pihaknya membina SMP N 24 dan MA Al Asthor.

“Tidak semua sekolah binaan mau mengikuti program adiwiyata,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengaku sempat kesulitan saat BLH Kota Semarang mensyaratkan 10 sekolah binaan. Namun setelah peraturan direvisi mensyaratkan dua sekolah saja, pihaknya telah memenuhi syarat. Hanya perlu membina dengan lebih intens. Sedangkan untuk syarat utama yaitu gelar adiwiyata nasional, telah disabet SMA N 7 sejak 2013 silam.

Menurutnya mendaftarkan sekolah ke tingkat Adiwiyata Mandiri merupakan tantangan bagi guru dan peserta didik. Program pemerintah tersebut mendorong sekolahan untuk membuat kebijakan berbasis lingkungan. Selain itu mengintegrasikannya ke dalam kurikulum atau pembelajaran. Lalu menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan lingkungan untuk pembiasaan peserta didik.

Hal itu dibuktikan dengan peraturan sekolah yang melarang kantin berjualan menggunakan kemasan plastik sekali pakai. Semua peserta didik juga diwajibkan membawa bekal dari rumah. Sekolah menyediakan fasilitas air minum isi ulang di setiap kelas. Di samping itu, hamparan taman di kawasan sekolah menambah keasrian lingkungan dilengkapi dengan puluhan biopori di berbagai sudut.

“Bangga sih kalau bisa jadi adiwiyata mandiri. Karena memang jadi seneng dan nyaman belajar dan menghabiskan waktu di lingkungan sekolah,” ujar Caroline, siswi kelas XII yang mengikuti kerja bakti di taman sekolah.

Pihak sekolah mengadakan kegitatan kompetitif dengan lomba tiap kelas seperti menghias dan merawat taman, lalu mengelola sampah yang dihasilkan selama belajar di sekolah.

“Ini anak-anak yang bertanggung jawab merawat taman dan sampah kalau masuk sekolah. Kalau sekarang hanya bisa kami penugasan secara daring,” imbuh Bu Wahyuni, pengajar yang hampir 20 tahun mengabdikan diri di sekolah tersebut.

Program Adiwiyata Mandiri memiliki cangkupan sangat luas. Sekolah mengadakan sosialisasi konservasi energi dan pembiasaan untuk menghemat energi kepada peserta didik. Sejauh ini SMA N 7 merencanakan inovasi pemanfaatan air hujan menjadi air minum.

“Kami harap dengan menjadi sekolah adiwiyata mandiri dapat menanamkan ke anak-anak kebiasaan-kebiasaan bijak menggunakan energi, mengelola sampah dan peduli lingkungan,” tegas Soleh Amin, Kepala SMA N 7 di kantornya. Menurutnya dimulai dari sekolah kebiasaan tersebut akan berlanjut hingga keseharian peserta didik dan dapat membangun kesadaran kolektif pada lingkungan.

(Artikel ini telah tayang di harian Jawa Pos Radar Semarang pada hari Sabtu 6 Maret 2021)